About Me

Foto saya
Don't judge me by my cover, cz i can trick you.. :P
Tampilkan postingan dengan label My Fantasy. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Fantasy. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 Juli 2012

- Unheard voices -

"There you're again, Master...."

"It's nice to see you draw me again.."

"I love your face when you draw me, Master"

"But, oh...? Why're you crying now...?"

"Why're you crying while draw me, Master?"

"Is it because of me, Master...?"

"Are you trying to draw someone...?"

"Am I that person you try to draw?"

"Are you hurt because of him, Master?"

"I won't hurt you Master!!"

"I won't make you cry!"

"So please look at me, Master"

"Draw me... with that smile again..."

"As if you love me so much..."

"As if you want me so much..."

"I want to see..."

"God, please... bring me to life!!"

"I love my Master!!"

"I don't wanna see her like this..!"

"I wanna be the one who cherish her!!"

"My Master don't deserve those sadness!"

"I want to protect her..."

"I want to be by her side..."

"I want her smiles......."

Rabu, 19 Oktober 2011

- Princess Candidus -



Di sebuah istana putih yang megah, hiduplah seorang putri bernama Candidus...
Kehidupan Sang Putri Candidus ini begitu membosankan, karena ia tak pernah sekalipun keluar dari lingkungan istananya.Orang tuanya tak mengizinkannya untuk bersekolah di sekolah umum, segala permintaannya selalu dipenuhi dan beratus-ratus pelayan siap melayaninya selalu.

Putri Candidus sangat bosan dan merasa kesepian.
Ia hanya bisa memainkan serulingnya untuk menghibur dirinya. Putri Candidus sangat pandai bermain seruling. Suara dari seruling yang ia mainkan begitu merdu dan menenangkan. Benar-benar sebuah alunan yang sangat memanjakan telinga.

Ketika suatu hari Putri Candidus memainkan serulingnya dari beranda kamarnya yang menghadap ke arah hutan, tiba-tiba seekor merpati putih menghampirinya. Putri Candidus sangat senang, karena baru pertama kali ini ada yang mengunjunginya.
Tapi merpati itu tak lama singgah di beranda kamar Putri Candidus. Ia akan kembali terbang meninggalkan Putri Candidus. Dan ketika merpati itu pergi, Putri Candidus sendirian dan kesepian lagi.

Tapi merpati itu selalu datang setiap Putri Candidus memainkan serulingnya. Dan selalu pergi lagi setelahnya.
Putri Candidus sangat menyayangi merpati itu. Ia beri makan merpati itu, ia sediakan minuman, ia rawat bulu-bulunya dengan baik. Karena merpati itulah yang menghilangkan rasa sepi Sang Putri untuk pertama kalinya.

Suatu hari, Putri Candidus memainkan lagi serulingnya di beranda kamarnya memanggil merpati putihnya. Dan ketika merpati putih itu datang, Putri Candidus menangkap merpati itu dan memasukkannya ke kandang. Putri Candidus tak ingin membiarkan merpati putih itu pergi lagi meninggalkannya sendiri dan kesepian. Putri Candidus ingin selalu bersamanya.

Maka terkabulkanlah keinginan Putri Candidus. Ia selalu membawa merpati putih itu beserta kandangnya ke mana pun ia pergi. Ketika ia belajar, minum teh, ataupun bermain di halaman istana. Putri Candidus sangat senang karena akhirnya merpati putih itu bisa selalu bersamanya.

Beberapa minggu kemudian, merpati putih itu terlihat berbeda. Ia tak selincah yang biasanya, malah ia tak beranjak sama sekali dari posisinya dan hanya menggerak-gerakkan kepalanya malas kalau dipancing oleh Putri Candidus. Putri Candidus langsung memanggil dokter hewan terhandal yang ada di negerinya. Dan ternyata, badan merpati putih itu mulai melemah. Kandang yang disediakan Putri Candidus cukup besar untuk merpati itu membuka lebar sayapnya, tapi tak cukup besar untuk merpati itu mengepakkannya apalagi terbang di dalamnya. Makanan yang dimakan merpati itu, udara yang ia hirup, dan lain-lainnya pun berbeda dengan habitat aslinya. Sehingga kondisinya pun mulai melemah. Kalau tidak cepat dilepaskan, mungkin saja merpati putih itu akan mati.

Putri Candidus bersedih. Ia tak mau melepaskan merpati putihnya, tapi ia juga tak ingin merpati putihnya mati. Ia tak mau merasa kesepian dan sendirian lagi di istananya. Ia ingin selalu bersama merpatinya.

Kenapa bisa begini? Putri Candidus selama ini senang bisa bersama merpati putih itu. Apa merpati putih itu tidak merasakan apa yang dirasakan Putri Candidus?

Pada akhirnya, Putri Candidus membebaskan merpati putih itu dari kandangnya. Ia melepaskan merpati putih itu di beranda kamarnya. Tapi merpati putih itu belum bisa terbang. Sayapnya masih terasa kaku dan sulit untuk dikepakkan.
Putri Candidus akhirnya memainkan serulingnya, mengalunkan melodi lembutnya. Merpati putih itu terus menerus berusaha mengepakkan sayapnya, dan akhirnya ia pun bisa terbang kembali.

Putri Candidus melihat merpati itu terbang dengan senangnya. Ia pun merasa senang merpati itu bisa terbang bebas lagi. Putri Candidus mungkin tak ingin ditinggalkan oleh merpati itu, tapi setidaknya merpati itu bisa kembali saat Putri Candidus memainkan serulingnya untuk menghibur dirinya yang sedang kesepian sendirian. Dan Putri Candidus lebih tidak ingin lagi ditinggal mati merpati itu untuk selama-lamanya.

Namun, Putri Candidus terkejut saat ia melihat ke bawah beranda kamarnya. Di sana ada berbagai macam binatang yang seperti sedang menungguinya, terpanggil oleh alunan dari serulingnya. Ada kelinci, marmut, kucing hutan, bahkan beruang dan lain-lain. Putri Candidus sangat senang. Karena kali ini ada banyak sekali binatang-binatang dari hutan yang menghampirinya, yang bisa menghilangkan rasa kesepiannya dan menghiburnya. Dan Putri Candidus hidup bahagia di istananya bersama merpati putih dan binatang-binatang lain dari hutan yang selalu siap menemani Putri Candidus di kala sepi.


The End : )

Senin, 19 September 2011

- Oret-oretan iseng tak berjudul -

"....Ada bagian dari diriku yang mengatakan kalau aku tidak boleh melupakannya. Tanpa kuhendaki, diriku selalu memaksakan diri untuk mengingatnya. Berusaha keras untuk mengingatnya, sampai tak jarang kepalaku terasa sangat sakit.. Aku merasa... dia begitu penting bagiku dan tak boleh aku lupakan.. Aku tak pernah bisa mengingat wajahnya. Tapi ada sesuatu dari dirinya yang tak bisa aku lupakan, maka setiap aku bertemu dengannya aku bisa tahu dia orang yang sama..

Aku tak bisa mengingat apa yang telah aku lalui bersamanya. Tapi sepertinya aku telah melakukan berbagai hal yang menyenangkan bersamanya, aku bisa tahu dari diary-ku yang kutulis setiap hari ini. Kalau saja aku tak menulisnya, mungkin aku tak pernah tau kalau aku pernah bertemu dengannya. Aku tambah kesal dengan ingatanku yang selalu hilang setiap 24 jam ini.. Sangat menyusahkanku!

Aku tak boleh melupakannya.. Aku ingin berteman dengannnya.. Aku ingin membuat memori-memori indah bersamanya.. Aku tak ingin kehilangannya... Dia yang begitu berharga bagiku.. Nathan namanya"






Nathan memegang buku harian itu dengan tangan yang mulai gemetar. Ia berada di halaman terakhir telah ditulisi, dan telah membaca kalimat terakhir yang berada di sana. Bola matanya terpaku pada sosok gadis yang sedang tertidur pulas di mejanya dengan tangan yang masih menggenggam sebuah ballpoint -- ia tertidur saat sedang menulis buku hariannya.

Kesadaran Nathan masih berada di luar tubuhnya. Ia hampir tidak percaya pada apa yang baru saja ia baca, pada sebuah buku yang masih berada di tangannya. Begitu di luar dugaan. Begitu tidak bisa diterima dengan akal sehat. Begitu tidak menyangka ini semua terjadi pada gadis mungil yang tertidur pulas di depannya ini dengan muka polosnya. Apa benar...?

Satu tangan Nathan mendekati kepala gadis itu. Mengusap-usap rambutnya, mencoba membuktikan bahwa dirinya sedang berada di dunia nyata. Lalu perlahan berpindah ke pipinya yang halus, dan gadis itu mulai menggerakkan kepalanya. Ia terbangun.

"Mmmmh... Nathan..?", gadis itu mengucek-ngucek matanya dan menyandarkan tubuhnya di kursi. Rambutnya berantakan, matanya belum terbuka penuh, dan wajahnya masih belum bisa menunjukkan ekspresi apapun. Khas orang yang baru bangun dari tidurnya.

"Maaf, gue ngebangunin elo ya?"

"Aaah!!", mata gadis itu terbuka lebar dan ekspresinya berubah panik saat melihat buku hariannya kini telah berada di tangan Nathan. Cepat-cepat ia merebut buku harian itu, Nathan tidak memberikan perlawanan, "Nathan baca, ya?!!"

"Iya.. gue baca..", kini wajah Nathan yang menjadi tanpa ekspresi.

"Nathaaann!! Ini diary Ayanaa!! Nathan gabole bacaa! Ini rahasia Ayana!"

"Tapi gue mau tau rahasia lo"

"Nathaannn... yang namanya rahasia itu ya... gaboleh dikasih tau orang lain..cuman Ayana yang boleh tauu"

"Gue bukan orang lain, Ayana! Gue Nathan!", nada bicara Nathan sedikit meninggi, "... Orang yang berharga bagi lo.. ya kan..?", lalu kembali merendah dengan air muka yang penuh arti.

Ayana tak lagi bersuara. Ia mengalihkan tatapan matanya dari wajah Nathan. Dilihatnya buku harian yang ia tulisi setiap hari itu, "Nathan.... Ayana...."

"Gue mau tau rahasia lo, Ayana. Gue mau tau semuanya tentang lo. Gak boleh ada satu pun dari diri lo yang nggak gue tau! Karena lo juga berharga bagi gue, Ayana!"

Ayana tak membalas Nathan.

"Boleh kan gue tau, Ayana...?"

Masih tak ada balasan.

"Apa yang lo tulis itu benar...?"

Kini Nathan menunggu jawaban dari Ayana. Dan akhirnya Ayana memberi jawaban dengan anggukan lemahnya.

"Bisa lo ceritakan apa aja yang lo alami kemaren..?"

Kini Ayana kembali menatap Nathan, "Ayana tau... Kemarin Kak Eloana membuatkan omelet dengan daging ham untuk sarapan, tapi Ayana nggak sempat menghabiskannya karena Ayana bangun kesiangan untuk berangkat ke sekolah.. Ayana dikasih PR Kimia yang Ayana udah kerjakan malamnya sebelum Ayana tidur.. Lalu--"

"Gimana dengan 2 hari yang lalu?", potong Nathan.

Ayana terdiam. Bola matanya bergerak tak menentu mencari jawaban, berusaha mengingat, "Ngg... Ayana... Dua hari yang laluu--..", tangannya hendak membuka catatan hariannya yang kemudian ditahan oleh Nathan.

"Jangan liat diary lo.. coba inget-inget.."

Ayana menunjukkan wajah menyerahnya, "Nggak bisa.... Ayana nggak tau..."

Nathan mencengkram tangan Ayana kuat-kuat, mencari sesuatu yang dapat menguatkan dirinya. Untuk menghadapi kenyataannya.

Kenapa ia baru mengetahuinya sekarang? Kenapa ia tak pernah menyadari suatu kejanggalan pun dari Ayana? Apa selama ini ia terlalu sibuk dengan kesenangannya sendiri bersama Ayana?

Nathan menundukkan kepalanya, berusaha menyembunyikan wajah lemahnya. Dari siapapun, walau ia tak bisa menyembunyikannya dari gadis polos di depannya ini.

"Nathan..."

"Ayo kita pulang, Ayana... Gue anter lo sampe rumah lo... sekalian ada yang mau gue pastiin...", mata Nathan berkilat tegar kali ini. Ia mengambil buku harian Ayana dan menarik tangan Ayana yang masih ada dalam cengkramannya. Ayana hanya menurut tanpa mengatakan apapun dan mengambil tasnya dari atas meja. Lalu mereka berdua meninggalkan ruang kelas yang telah kosong itu dengan cepat.

Selasa, 09 November 2010

- 1 : First Impression -

Pagi itu, sebelum pelajaran dimulai, Nathan membuka satu pesan baru di hapenya dengan malas . Ia merebahkan kepalanya yang berat di meja sambil membaca pesan itu ..


" Pagi, Nathaann ... Kok sms aku semalem nggk di bales lagi sih ?? Kamu lagi sibuk ya belakangan ini ? "


Nathan menghela napasnya lalu menggeletakkan hapenya begitu saja di meja, yang kemudian langsung di sambar oleh Dito yang baru saja datang .


" Cieee ... Kok nggak di bales sih smsnyaa ... ?? ", goda Dito .


" Nggak penting .. Gue dah males ngeladeninnya .. Dia suka sama gue .. ", timpal Nathan datar .


" Emang kali ini siapa ? "


" Sheila, IPS-2 .. "


" Bukannya bersyukur lu banyak yang nemplok ama lu .. Pilih salah satu apa susahnya sih ?? Gak kasian apa sama para jomblo lain di sekolah kita yang udah mati-matian ngegebet cewek tapi selalu kandas di tengah jalan .. ? ", ceramah Dito .


" Gue belom mau pacaran, Dit ... Lebih tepatnya gue belom mau repot ngurusin cewek .. "


" Emang lo udah pernah ngurusin cewek .. ? "


" Belom "


" Trus gimana bisa lu tau kalo ngurusin cewek itu repot .. ? "


" Yaelah, Dit .. Apa gue harus minum air laut dulu biar gue yakin rasanya asin ?? Tanpa gue nyoba juga gue udah tau kali .. Lu liat ajja, mereka ajja sering kerepotan ngurus dirinya sendiri . Gimana kalo dia udah bergantung ama kita ? Kita kebagian repotnya juga, gan! ", terang Nathan sambil membangkitkan badannya dari posisi rebahannya .


Lalu Nathan menangkap sosok yang ia kenal di pintu masuk kelas . Seorang cewek sedang celingukan ke dalam kelas Nathan . Nathan memperhatikan cewek itu . Tak lama kemudian, cewek itu melangkah masuk ke kelas Nathan, menuju ke sebuah meja di tengah-tengah kelas . Lalu ia menunduk, melihat ke arah laci meja itu . Lalu ekspresi mukanya berubah senang, dan ia mengambil sesuatu dari dalam laci . Kemudian, cewek itu membungkukkan badannya berkali-kali ke arah meja itu . Cewek itu nyaris menabrak Nathan yang sudah ada di belakangnya saat ia membalikkan badan .


" Waaaaa ... ! ", jerit cewek itu .


" Yo, Ayana ... ", sapa Nathan .


" Ah, Nathan .. ! Sedang apa kau di sini ? ", balas Ayana setelah beberapa detik terdiam berusaha mengenali sosok di hadapannya itu .


" Ha ? Harusnya gue yang bertanya kea gitu .. Ini kelas gue sekarang .. ngapain lu di sini .. ?? Terakhir gue inget, kita nggak sekelas kan ? ", Nathan menyandar pada meja di sampingnya .


" Oh, kelas Nathan di sini ya .. Tadi Ayana ngambil barang yang ketinggalan .. Untungnya belum ilang .. "


" Barang apa ? ", tanya Nathan .


" Hape.. Hehehhe .. ", jawab Ayana dilengkapi dengan cengiran di wajahnya .


Seketika Nathan menganga membatu . Terkejut dengan jawaban dari Ayana, " Lu ini bodoh ya .. ? "


" Lebih tepatnya ceroboh .. Kemarin pas pelajaran terakhir Ayana ketiduran di sini .. Habisnya bosen banget .. Matematika .. Waktu bangun udah jam pulang , Ayana langsung buru-buru pulang .. Trus hape Ayana ketinggalan deh .. ", terang Ayana .


Nathan hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal . Lalu ia heran dengan sikap Ayana yang terus-terusan menatapnya, " Ada apa ? Ada yang nempel di muka gue ? "


" Nggak .. Baru pertama kali Ayana ngobrol ma Nathan sedeket ini .. Dan Ayana baru sadar .. Nathan punya mata yang indah, ya .. ", jawab Ayana cepat .


Mendengar itu, Nathan langsung salah tingkah . Dipalingkannya wajahnya dari Ayana sambil mendengus, " Apa-apaan itu .. Gombalan untuk cewek seperti itu nggk mempan untuk gue .. "


" Ayana nggk ngegombal, kok .. ", Ayana melihat jam tangannya, " Ayana balik ke kelas dulu ya, Nathan .. Ayana lupa belom ngerjain tugas Kimia untuk nanti dikumpulin .. hehehe ", Ayana hendak berbalik keluar kelas Nathan .


" Eh, tunggu .. ! Kelas lu di mana ? ", cegah Nathan .


" Di ruang bahasa .. "


" Mo gue anterin .. ? "


" Ha .. ? Kenapa harus dianterin .. ?? ", tanya Ayana bingung .


" Yaudah gue tarik lagi tawaran gue .. Dah, sana pergi .. "


Ayana langsung tertawa kecil mendengarnya , " Hhahahaha .. Apaan sih, dasar aneh .. Makasih ya .. Daaaahh .. ", Ayana langsung melesat keluar ruang matematika itu .


Nathan mengawasi Ayana sampai ia menghilang dari balik pintu . Lalu Dito menghampiri Nathan .


" Siapa tuh ? Belom pernah liat keanya gue .. ", tanya Dito .


" Ayana .. anak IPA-2 .. Baru pindah semester ini .. Satu ekskul sama gue .. "


" Gebetan lo ? "


Nathan langsung menempeleng kepala Dito dengan cepat , " Seenak jidat lu ngomong .. Gue gak bakal ngegebet cewek sepolos itu kali .. "


" Hahahha .. yakin .. ?? Tapi biasanya yang kayak gitu yang diam-diam masuk ke hati tau, Nath .. ", ujar Dito sambil cengegesan .


Nathan tak membalas lagi ocehan Dito dan kembali ke tempat duduknya sambil merebahkan kembali kepalanya di atas meja .


***


Kelas terakhir Ayana hari ini berada di ruang Lab Biologi . Kelas Ayana baru saja selesai melakukan praktikum . Dan Ayana sedang mencuci peralatan lab ketika Nathan melintas di depan lab yang sudah sepi itu dan masuk ke dalamnya .


" Yo , Ayana .. ", sapa Nathan .


Yang di sapa hanya terdiam heran melihat Nathan . Ayana merasa hari ini ia sering bertemu dengan Nathan .


" Belom pulang .. ? ", tanya Nathan basa-basi .


" Belum .. Mau ngebersihin alat-alat bekas praktikum dulu .. ", jawab Ayana sambil fokus kembali ke pekerjaan yang ia lakukan .


" Lho , itu mah biarin aja kali .. Kan ada petugas kebersihan lab .. "


" Iya Ayana tau .. Tapi kayaknya hari ini dia nggak masuk deh .. Jadi daripada numpukin kerjaannya dia, mending Ayana bersihin aja peralatannya sekarang .. Nggak banyak kok .. "


Nathan hanya terdiam sambil memperhatikan Ayana yang sedang membersihkan peralatan lab itu . Lalu ia meletakkan tasnya di meja lab dan berjalan mendekati Ayana .


" Dasar aneh .. ", ujar Nathan sambil menyusun peralatan yang telah bersih di cuci Ayana .


" He .. ? "


" Nggak . Bukan apa-apa .. Cepat selesaikan dan langsung pulang .. ", perintah Nathan .


Kurang lebih sepuluh menit mereka berada di ruangan lab itu . Setelah mereka membersihkan seluruh peralatan lab yang habis dipakai untuk praktikum dan menyusunnya kembali, mereka berjalan menuju kantin .


" Eh, gue belom punya nomer lo ya .. ? ", tanya Nathan .


" Ngg ... belom deh keanya .. "


" Minta dong "


" Eh .. ?? Untuk apa ? ", Ayana terkejut .


" Ya minta aja .. emg gak boleh ? Kalo gak boleh yaudah .. ", ujar Nathan sambil melengos mendahului Ayana .


" Eeeehh ! Bukan gituu ! Ya boleh lah, boleh ..", tukas Ayana sambil menarik tangan Nathan .


Nathan hanya nyengir melihat tingkah Ayana . Setelah mereka bertukar nomor hape , Ayana pamit diri untuk pulang .


" Ayana pulang duluan ya, Nathan .. ! "


" Iya . Hati-hati .. ", ujar Nathan sambil tersenyum .


Ayana terdiam beberapa detik . Kemudian ia tersenyum, " Iyaaa .. ! Makasih ya udah bantuin Ayana tadi .. ! Nathan baik, deh ! ", ujar Ayana riang . Lalu ia sedikit membungkukkan badannya dan berbalik untuk pulang .


Nathan tersenyum sambil memperhatikan Ayana sampai ia menghilang di tikungan lorong sekolah .


" Cewek unik .. ", ucapnya lebih kepada dirinya sendiri .

Rabu, 03 November 2010

- Just a Story -


Pada suatu masa, berdiri sebuah kerajaan yang sangat makmur dan sejahtera rakyatnya .
Kerajaan itu bernama Schemetterling .
Raja dan Ratunya memiliki seorang putri yang sangat cantik mereka beri nama
Narcieq .


Ketika sang Putri sudah tumbuh dewasa , ia jatuh cinta pada pangeran dari kerajaan seberang .. Pangeran Ilius dari Kerajaan Grausam .

Sayangnya , hubungan mereka sangat ditentang keras oleh orang tuanya ..
Dikarenakan Kerajaan Grausam terkenal buruk .. Kekerasan merupakan hal yang wajar di negaranya ..

Tentu saja orang tua sang Putri menentang hubungan mereka karena khawatir akan terjadi hal yang buruk dengan sang Putri .. Keturunan mereka satu-satunya ..


Tapi sang Putri yakin, Pangeran Ilius tak akan mencelakakannya ..

Sang Putri selalu berusaha meyakinkan kedua orang tua nya .. Tapi hasilnya selalu saja nihil ..


Suatu hari, sang Putri menerima surat dari merpati milik Pangeran Ilius ..
Di dalam surat itu Pangeran Ilius mengajak sang Putri untuk bertemu dengannya ..

Sang Putri pun membohongi kedua orang tua nya demi bertemu dengan Pangeran Ilius ..
Sang Putri meminta izin untuk jalan-jalan keluar istana seorang diri ..


Setelah mendapat izin, sang Putri langsung melesat ke sebuah padang rumput tempat ia dan Pangeran Ilius janjian untuk bertemu ..

Di sana, mereka menghabiskan waktu yang menyenangkan bersama ..

Sampai akhirnya mereka kepergok oleh sang Raja dan sang Ratu ..


Sang Raja pun marah .. Diseretnya sang Putri pulang ..

Sang Ratu pun kecewa .. Air mata tak dapat ia tahan lagi ..

Pangeran Ilius tak bisa berbuat apa-apa .. Ia ditahan oleh pengawal sang Raja dan Ratu ..


Di istana,
sebuah tamparan melesat di pipi sang Putri sebagai sebuah hukuman atas apa yang telah ia lakukan ..

Sang Raja marah besar ..

Sang Ratu masih menangisi putrinya yang mulai membangkang ..

Sang Putri hanya terdiam menunduk ..


Ia kesal .. Ia sedih .. Ia marah .. Ia kecewa ..


Mengapa orang tua nya selalu memperlakukannya seperti ini ??

Mengapa orang tua nya selalu saja menentang hubungannya ??

Apakah orang tua nya tak ingin melihatnya bahagia bersama Pangeran Ilius ??

Apakah kebahagiaannya bersama Pangeran Ilius hanya khayalannya ??


Sang Putri mulai lelah ..

Ia lelah dengan semua ini ..
Ia lelah dengan tekanan yang diberikan semua orang padanya ..

Tak ada satu orang pun yang berpihak padanya ..

Tapi Pangeran Ilius selalu saja memaksa dirinya untuk tetap tegar dengan semua beban yang ia punya ..

Dan akhirnya sang Putri kembali berdiri di atas kakinya sendiri ..


Beberapa bulan setelahnya , sang Putri menerima surat lagi dari Pangeran Ilius yang mengajaknya bertemu ..

Kali ini sang Putri pergi secara diam-diam ..
Ia melarikan diri ..

Lalu melesat ke sebuah danau tempat mereka berjanji untuk bertemu di sana ..
Di sana, mereka menghabiskan waktu yang menyenangkan bersama ..
Sampai akhirnya mereka kepergok oleh sang Raja dan sang Ratu ..


Sang Raja pun murka .. dikerahkannya pengawalnya untuk menyerang Pangeran Ilius ..

Sang Ratu meratap .. dipintanya sang Putri untuk pulang ..
Pangeran Ilius melarikan diri untuk menyelamatkan nyawanya ..


Di istana, sang Putri langsung dikurung di kamarnya sebagai hukuman ..

Tangannya diborgol .. Mulutnya di sekap .. Dan tak boleh keluar dari kamarnya ..
Sang Putri menangis ..
Menangisi ketragisan kisah cintanya bersama Pangeran Ilius ..

Ia hancur .. Langitnya runtuh .. Batinnya lumpuh ..

Ia sadar .. Ia takkan bisa melawan semua orang yang menentangnya ..

Ia sadar .. selama ini ia berjuang sendirian ..

Sementara Pangeran Ilius jauh di sana tak berbuat suatu apapun ..


Lalu, untuk apa ia berjuang kalau yang ia peroleh hanya kehancuran dirinya sendiri .. ??


Sang Putri akhirnya menemui Raja dan Ratu .. menyampaikan kalau ia akan memutuskan hubungannya dengan Pangeran Ilius ..
Dan ia akan menuruti semua kemauan orang tua nya ..
Ia akan menjadi anak baik ..
Putri yang dulu dibanggakan kedua orang tuanya ..

Dengan itu , ia melepaskan seonggok hatinya ..
Segenap perasaannya ..


Ia sudah terlalu lelah untuk semua ini ..


Keadaan pun berangsur-angsur pulih ..

Sang Putri dengan orang tua nya kembali menjadi sebuah keluarga kecil yang hangat ..

Sang Putri lebih sering tersenyum ..

Sang Putri merasa ia lebih bahagia dengan orang-orang terdekatnya ..

Sang Putri menyesali dirinya yang dulu dengan bodohnya berusaha meraih kebahagiaan yang jauh dari matanya ..
Padahal kebahagiaan itu sendiri sangatlah dekat dengan dirinya ..


Sang Putri tak pernah lagi membalas surat yang dikirimkan oleh Pangeran Ilius ..
Sampai akhirnya
Pangeran Ilius menyampaikan kalau ia akan merebut sang Putri dari tangan orang tua nya suatu saat nanti ..

Tapi itu tak pernah dihiraukan oleh sang Putri sendiri ..
Ia takkan pernah kembali lagi pada Pangeran Ilius ..


Lalu sang Raja mengenalkan seorang pangeran dari kerajaan tetangga yang akan melatih sang Putri ilmu berpedang ..
Pangeran Antares dari Kerajaan Meyen ..

Sang Putri merasa tersihir oleh sepasang mata indah yang dimiliki sang Pangeran ..
Jantungnya berdegup lebih cepat setiap menatap bola mata itu ..

Tapi ia merasa aman dan nyaman dengan sinar mata dari sang Pangeran ..


Selain diajarkan ilmu berpedang oleh sang Pangeran , akhirnya sang Putri menemukan tempatnya untuk bersandar ..

Menyandarkan tubuhnya yang lelah ..
batinnya yang rapuh ..
menopang kembali langitnya yang telah runtuh ..


Ia beritahukan semua cerita-cerita gelapnya pada pangeran Antares ..

Pangeran Antares pun telah bersumpah untuk melindungi sang Putri apapun yang akan terjadi ..

Sang Pangeran takkan membiarkan sang Putri kembali pada masa-masa menyedihkan itu ..


Lalu tibalah pada hari di mana Pangeran Ilius dan beberapa anak buahnya menculik sang Putri ..
Dibawanya sang Putri yang tak sadarkan diri pergi dari kerajaannya ..
Pangeran Antares tak tinggal diam ..
Dikejarnya Pangeran Ilius ..

Pertarungan sengit antara dua pangeran pun tak terhindarkan ..

Gerakan-gerakan Pangeran Antares sangat cepat dan lincah .. Tapi ia tak punya banyak stamina ..
Sementara Pangeran Ilius punya banyak stamina dan gerakannya sangat kuat ..


Sang Putri yang telah siuman melihat pertarungan kedua pangeran tersebut ..
Pedang Pangeran Antares terlempar dari tangannya ..
Pangeran Ilius langsung saja menggunakan kesempatan yang ada untuk mengakhiri pertarungan tersebut ..


Tapi pedangnya malah menebas tubuh sang Putri yang hendak melindungi Pangeran Antares ..

Sang Putri terluka .. Ia bersimbah darah ..

Sesaat sebelum ia ambruk .. Ia sempat berkata dengan suara lemahnya ..


" Ini .. pilihanku .. "


Pangeran Ilius mendengarnya dengan sangat jelas ..
Ia tak percaya dengan apa yang ia dengar ..

Sang Putri sudah tak menginginkan dirinya lagi ..

Ia telah menjadi serangga pengganggu di ladang kebahagiaannya ..
Lalu ia menarik diri dengan segala kekecewaannya ..
Dan pergi dari kehidupan sang Putri untuk selama-lamanya ..



Sang Putri langsung saja diberi segala perawatan yang ada untuk menyembuhkan luka nya ..

Dan akhirnya ia berhasil pulih dari lukanya itu ..

Ia masih hidup .. Hidup dengan bahagia sampai akhir hayatnya ..

Dengan orang-orang terdekatnya yang ia anggap berharga dan menganggapnya berharga ..


Sungguh .. Kebahagiaan sangatlah dekat dengan dirinya ..

--- P.S
Ini cuman khayalan gue doang .. jangan dianggap terlalu serius . wakakawkaw .. xDDD

. Sobat .